Archive for October, 2008

I want to know what love is….

October 26, 2008

I want to know what love is….(I want You to show me!)

Love is always patient and kind….

It’s never jealous.

Love is never boastful or conceited….

it’s never rude or selfish.

It does not take offence and is not resentful.

Love takes no pleasure in other people’s sins,…

but delights in the truth.

It is always ready to excuse, …

to trust…

to hope…

to endure whatever comes.

(St Paul’s first letter to The Corinthians).

Advertisement

Sosis Goreng dan Tempe Goreng

October 25, 2008

Dua jenis makanan yang sama – sama sering saya makan. Bedanya, sosis goreng sering saya makan sejak saya disini sedangkan tempe goreng adalah makanan ter-favorit saya. Bagi saya, serasa tidak makan jika tanpa tempe goreng. Bayangkan, sehari bisa makan tempe goreng 10 biji lho!

Lalu apa masalahnya sekarang…jelas masalah besar karena saya disini tidak bisa punya akses ke makanan favorit saya itu. Sering timbul tanda tanya: apa rasanya masih sama ya, apa bentuknya juga masih sama? apa masih murah?

Bisa dibayangkan kan bagaimana perasaan saya kalau sekarang posisi tempe goreng itu dengan sangat memaksa dan tiba – tiba digantikan oleh sosis goreng. Cukup menderita!

Ya sudahlah, ini adalah kenyataan yang harus saya terima. Saya sudah membayangkan nanti kalau pulang alangkah indahnya pertemuan kembali dengan…semua yang saya sayangi (termasuk tempe goreng)!

Public Transport di hari Sabtu dan Minggu

October 19, 2008

Hari Sabtu kemarin dan Hari Minggu ini saya jalan kaki. Ah cuma jalan kaki kan biasa…ya biasa jika hanya 10 sampai 30 menit. Tapi yang saya lakukan ini jalan kaki sampai 1 jam 10 menit! Bukan dalam rangka lomba jalan kaki.

Hari Sabtu kemarin saya bermaksud beli laptop kecil, karena laptop besar yang biasa saya gendhong dipunggung setiap hari kok makin lama makin membebani punggung, jadilah pergi ke electronic center. Ketika mau pulang menenteng dos isi laptop, sudah nunggu di bus stop 15 menit kok si Bus tidak kunjung muncul… eh ternyata setelah saya baca informasi yang terpasang di halte itu, Hari Sabtu dan Minggu tidak ada bus yang lewat halte itu, adanya di halte di main road, tadi waktu berangkat lewatnya beda rute dan hanya jalan sedikit ke tokonya. Wah celaka betul…so jalan kaki sekitar 45 menit ke halte di main road ditengah terik matahari menjelang summer ini.  It’s oke…no problem…no worries. The most important is I’ve got the smaller notebook.

Keesokan harinya, hari Minggu, saya bermaksud pergi ke gereja di kathedral dekat Victoria Square, itu di pusat kota. Jadwal misa jam 09.00 am. Lha setelah konfirmasi jadwal bus, untuk hari Minggu halte yang dekat kost cuma kelewatan bus mulai (paling awal) jam 8.55 setelah itu setiap 1 jam sekali. Tanpa ragu – ragu, langsung saya putuskan jalan kaki agar bisa ikut misa jam 09.00. Maka pagi ini saya jalan kaki dari kost ke gereja selama 1 jam 10 menit, agak makan waktu lama karena saya buat jalannya santai, saya tetap jaga agar ketika ikut misa nanti tidak kemringet and sumuk. Sepanjang perjalanan saya mengingat cerita suami saya yang katanya waktu dia kecil karena rumahnya didesa sedangkan gereja cuma ada dikota, dia sekeluarga harus bangun jam 4 pagi untuk misa jam 6.00 dan jalan kaki jauh juga. Wah aku pikir-pikir nggak di Adelaide and di Dusun Nglampu, Muntilan, ternyata sama – sama ke gereja harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan jalan kaki. Di Adelaide ini lebih JADUL, karena kejadian di Desa suami saya itu sudah berlangsung hampir 30 tahun yang lalu dan sekarng tidak lagi. So…mana yang lebih moderen?

Hal itu karena public transport di sini untuk Hari Sabtu dan Minggu hanya ada setiap 1 jam sekali dan dijalur -jalur tertentu saja, itupun mulainya siang, ya sekitar jam 09.00 an gitu. Orang sini kalau libur bermalas-malasan, bangun siang dan lebih suka dirumah.

Masalah jalan kaki jauh ke gereja itu sebenarnya masalah yang saya pilih sendiri karena ada juga jadwal misa jam 12 siang, sehingga sudah ada bus lewat. Tapi saya tidak biasa atau tidak nyaman bangun siang sehingga lebih baik pilih pagi sekalipun harus dengan perjuangan.

Jadi kalau hari Sabtu dan Minggu serta Public Holiday, kalau tidak punya mobil sendiri, mobilitas memang jadi terbatas. Rupanya Pak Sopir pun perlu holiday tidak narik terus.

Pindah Kost

October 11, 2008

Hari ini Sabtu 11 October 2008 saya pindah tempat tinggal. Karena yang sebelumnya cukup jauh dari kampus harus naik train 30 menit dan bus 20 menit, kalau ditotal dengan jalan kakinya ya makan waktu 1,5 jam. Saya merasa wasting time di perjalanan.

Saya jadi teringat dulu waktu masih kuliah S1 di UGM, selama kuliah tersebut saya pindah kost sampai 7 kali…ada yang lebih sering?? Saya pikir – pikir saya punya hobi nomaden. Tidak hanya kost, rumah pun saya juga relatif sering pindah karena sejak pertama kali punya rumah sendiri 10 tahun yang lalu saya sudah 4 kali pindah rumah. Pertama di Perum Griya Indah jalan Godean, terus pindah ke Gulon Muntilan, pindah lagi ke Sleman dan terakhir ini pindah lagi masih di Sleman di Taman Safira Asri 3F, Denggung, Sleman. Mau pindah lagi?…mungkin iya kalau anak – anak sudah remaja nanti, karena saya ingin punya rumah yang ada back yard-nya yang cukup luas.

Apa ya yang saya nikmati dari pindah – pindah itu…suasana baru pasti, lingkungan baru, menata barang kembali, ya menyenangkan.

Kembali ke kost saya yang di Adelaide ini, pertama kali saya tinggal dengan keluarga Case, native Australia, saya sudah sedikit banyak tahu culture Australia dan beberapa bahasa “slank” khas Australia. Sekarang saya tinggal dengan keluarga Habib-Bilkish imigrant dari Bangladesh, saya akan mulai tahu bagaimana culture Bangladesh, makanannya kayak apa, kesehariannya seperti apa, etc.

Sepertinya Bulan Januari 2009 nanti saya akan pindah lagi jika anak saya jadi ikut sekolah disini. Ruang kerja saya di kantor saja sudah pindah 5 kali sejak bekerja 8 tahun yang lalu. Jadi pindahan bagi saya sudah hal yang sangat biasa dan hobi kali ya…

Library Untuk Mengatasi Kangen

October 6, 2008

Berada jauh dari anak – anak dan suami serta keluarga dan sahabat, menjadi hal yang berat pada awal – awal saya di Adelaide, Australia. Namun sangat saya sadari ini adalah konsekuensi dari sebuah pilihan yang telah saya tetapkan. Syukurlah saya menemukan suatu tempat nyaman yang bisa membuat saya krasan untuk fokus ke studi yaitu: library, baik library uni ataupun state library dua – duanya tempat paling nyaman untuk saya sembunyi dan konsentrasi.

Hal menarik adalah di State Library Adelaide South Australia. Library uni juga luar biasa, namun memang begitulah seharusnya library sebuah universitas. Yang menarik perhatian saya justru State Library, lagi – lagi harus saya bandingkan dengan my Country Indonesia, semata – mata untuk kebaikan di masa depan. State Library di Adelaide memberikan pelayanan yang sangat informatif dan tentu saja ramah, fasilitas free untuk conversation and tutorial bahasa Inggris bagi para pendatang yang tidak berbahasa inggris di negaranya…luar biasa kan?

Koleksi buku umum, populer, novel, science, etc yang komplit dan dapat dipinjam dengan mudah. Jadi jika weekend tiba, saya pasti menyusuri rak koleksi novel dan filsafat yang saya suka. Dan hebatnya, pengunjung selalu melimpah setiap hari, namun keheningan ruang baca tetap terjaga. Satu lagi, semua pengunjung yang punya laptop bisa numpang browsing dengan hotspot di State Library.

Library jadi tempat nyaman bagi saya untuk menghindar dari rasa kangen dengan keluarga di Yogyakarta.