Global Climate Change, naik taksi dan kisah sebuah payung….

Sekarang memasuki bulan Nopember. Di Adelaide musim Spring sejak September lalu. Bulan Desember nanti memasuki Summer. Adelaide cerah dan cenderung panas sejak hampir 3-4 minggu ini, walaupun sekitar 4 hari lalu hujan rintik – rintik.

Pagi ini hari Minggu, seperti 3 kali hari Minggu sebelumnya, saya jalan kaki ke gereja. Begitu keluar rumah…wah langit mendung…saya putuskan jalan lebih cepat agar segera sampai di gereja sebelum turun hujan. Memang kemarin ramalan cuaca mengatakan Adelaide berawan.

Sepanjang jalan saya berdoa agar saya tidak kehujanan karena saya kawatir jatuh sakit, dan kalau harus berteduh ada kemungkinan saya terlambat. Langkah saya percepat, saya berjalan diiringi beberapa kali kilatan petir, dan agak lega karena puncak – puncak gedung di Adelaide city sudah mulai kelihatan.

Namun, tiba – tiba tetes – tetes air mulai terasa di ujung hidung saya. Saya lihat di seberang jalan ada pompa bensin dan ada toko kecil. Segera saya berlari menuju toko tersebut dan bertanya apakah menjual payung. Saya tidak beruntung karena payung tidak dijual di situ. Saya sejenak termangu di teras toko dan berpikir “What should I do?” sedangkan hujan semakin deras saja. Jika saya menunggu saya tidak tahu sampai kapan hujan akan berhenti dan saya mungkin akan terlambat.
“Taksi!”…itu yang kemudian terlintas di benak saya ketika melihat sebuah taksi melintas. Namun, saya teringat bahwa ongkos taksi mahal (di Yogya juga mahal). Saya tanya ke penjaga toko, saya minta perkiraan dia tentang biaya taksi ke Wakefield Street. Sekitar 10 dolar katanya…wah lumayan mahal, pikir saya. Namun keputusan harus segera diambil.

Saya melambai ketika ada taksi lewat. Saya membayangkan jika saya punya payung, saya bisa meneruskan jalan kaki yang tinggal 15 menit lagi. Namun, sudahlah…menyesal itu kurang berguna. Ketika taksi berhenti di depan gereja di ujung Wakefield Street, dengan berdebar saya lihat argo…10 dolar 20 cent…(hampir tepat juga perkiraan si penjaga toko tadi). Saya berharap tidak perlu naik taksi lagi setelah ini dan ini tadi hitung –hitung untuk pengalaman naik taksi di Adelaide.

Saya kemudian memutuskan harus payung. Kenapa saya dari kemarin – kemarin “ngeyel” tidak beli payung? Karena saya pikir ini sudah Spring dan hampir Summer, masak sih hampir musim panas turun hujan.
Selesai misa digereja, saya menuju hall untuk kerja volunteer di morning tea. Ternyata ada acara jualan dari Ibu-Ibu, mungkin untuk dana natalan. Iseng – iseng saya lihat barang-barang yang digelar. Dan mata saya tertumbuk ke sebuah benda yang memang sedang memenuhi pikiran saya…ya sebuah payung. Wah beli saja disini karena diluar masih rintik-rintik,…jangan girang dulu, pikir saya, siapa tahu itu payungnya Ibu yang jualan, masak mau dibeli hi…hi. Namun tidak mengurungkan niat, segera saya tanya apakah dijual. Saya beruntung karena payung itu dijual dan harganya….Oh My God, …cuma 1 dolar!!

4 Responses to “Global Climate Change, naik taksi dan kisah sebuah payung….”

  1. fenty Says:

    membaca your story, aku jadi ingat saat kita bersama di singapore, terutama di Sentosa island, dengan roti sosis, he-he…………………………
    di Yogya juga mulai turun hujan, akupun belum punya jas hujan untuk sepedaku. saat mau pulang aku dijemput dengan mobil, menjelang sore aku baru ingat bila sepedaku masih di parkiran sadhar. so akhirnya balik lagi ke parkiran untuk ambil sepeda kesayanganku itu. Wah…….. aku membanyangkan bagaimana bila aku yang di Adelaide seperti Aris……………. mungkin gak sekuat kamu yah……………………………..
    Ok selamat berjuang sahabatku…………………………………….!!!!!!!!!!

    Thank you…!!!
    Ingat pula saat di Genting Highland, aku begitu histeris ketakutan saat naik “kursi terbang” itu (memalukan banget hi…hi).
    Aku sangat penakut jika naik sesuatu yang membuat aku jauh dari tanah tempat berpijak. Jadi bisa dibayangkan betapa menderitanya dulu waktu kesini hampir 8 jam dipesawat. Juga saat kita dari Jogja ke Jakarta ke Batam, dari Malaysia ke Yogyakarta, telapak tanganku basah kuyup berkeringat karena takut.
    Lha kamu tuh lucuuuuu…banget! Wong sepeda motor kok ketinggalan…wah payah tenan!
    Tapi aku juga pernah punya pengalaman lucu, karena terbiasa pakai mobil, ketika naik motor ke kantor aku dengan cueeknya di ringroad pakai jalur tengah (jalur mobil), lama baru sadar ketika menyadari kok gak ada motor lain…he…he.
    “Bukunya digarap lho!…”
    ARIS

  2. Enade Says:

    Payungku selalu nangkring di tas. Saking selalu nongkrong di sana, dua kali tidak sengaja kebawa ke Indonesia.

    Lha ini lebih aneh lagi, yang terbayang dibenakku adalah: tasnya tidak pernah dibersihkan! hayoo…ngakuuu!
    ARIS

  3. Enade Says:

    Ya iyalah …. Tas itu dibersihkan dengan cara ganti yang baru ha..ha..ha…

    :p

    Ide yang perlu dipertimbangkan, demi mencapai efisiensi pemakaian sabun cuci he…he
    ARIS

  4. Yuli Says:

    Dalam segala yang terjadi atas diri kita selalu saja ada hal yang bisa dipelajari….

    Setuju!…yang sering jadi masalah adalah karena sering lupa: “menarik pelajaran dari pengalaman dan belajar dari kesalahan masa lalu”. However, we should keep in mind that tomorrow we have to do better”.
    ARIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: