Archive for the ‘Public Health’ Category

Two billion men and women in developing countries cannot get essential medicines

December 20, 2011

November 21, 2011 – Two billion men and women in developing countries cannot get essential medicines
Once Every Seven Years World Experts Meet to Discuss Misuse of Medicines in Low- and Middle Income Countries. Eight Indonesian Researchers Attended this Prestigious Meeting.


High medicine costs push 150 million people below the poverty line each year.  In many low- and middle income countries, one month of life-saving insulin treatment for diabetes may cost half a month’s salary. In one Asian country, 42% of medicine costs is spent on bribing the doctors.  In Oman, misuse of antibiotic use has been reduced by half since 1995. Cell phone messages remind  East-African AIDS patients to take their medicines.
When Catherine Adwoa suddenly fainted and fell ill, her mother first thought she had AIDS. But when she was rushed to the district hospital, she was relieved to hear that that was not the case. The doctor told the 17-year old schoolgirl she had diabetes.  But her father knew immediately that his life would never be the same again. From now on, the daily injections of insulin for his daughter would cost him half his salary. Like in most other African countries medicines for AIDS are free, but treatment for diabetes is not. Hospitals rarely have the injections in stock, so he would have to go around private pharmacies to get the life-saving medicine for the rest of his life, which meant there would be no money left to pay for school fees.
Over 600 world experts on essential medicines met in Antalya, Turkey for the Third International Conference on Improving the Use of Medicines (ICIUM). They heard several similar stories from developing countries from all over the world – how life-saving treatments for malaria are not available in private pharmacies of East Africa; how unscrupulous local manufacturers continue to produce and promote malaria drugs that the World Health Organization has recommended be taken off the market because they lead to resistance; and how 42% of the price of medicines in one Asian country is spent on bribing the doctors.
Delegates from over 80 countries who attended ICIUM also learned that more people in developing countries die from chronic diseases such as hypertension, asthma and diabetes, than from infectious diseases such as AIDS and tuberculosis. Unfortunately very few governments do anything about it.
But there was also good news. The medicines for a year of treatment of such chronic diseases cost less than $6 dollars – provided they are bought as generic (off-patent) medicines and provided the local distributor, the pharmacist and the doctor do not add another 10 or 20 dollars to the price. The Sultanate of Oman has succeeded in drastically reducing the use of antibiotics (from 60% of prescriptions in 1995 to 15% of prescriptions in 2010), thus reducing the chance that resistance develops. Specially trained drug sellers in Tanzania, called ADDOs (Accredited Drug Dispensing Outlets), supply essential medicines of good quality to patients in rural areas.
ICIUM Conferences are only held every seven years. Earlier conferences were in 1997 and 2004, both in Thailand. This time ICIUM was held in Turkey to allow for more delegates from the Middle East to participate. The conference was originally planned to take place in Alexandria (Egypt) but had to be relocated in view of the political unrest in the region. However, over 250 Egyptian experts and students attended the conference through a live webcast. Special attention was given to the needs of the people in countries of the “Arab Spring” with examples of constitutional text from other countries reflecting access to essential medicines as part of human rights.
AIDS has become a chronic disease, for which life-long treatment in needed. There are now more cell-phones in Africa than in the USA and Canada together. A very promising development is the use of cell-phones and short text messages in several African countries to remind AIDS patients about their appointments to get their medicines.
Delegates also heard that in most countries, women did not have more difficulty than men in getting their medicines; but more such studies are needed in countries such as Yemen, Somalia, Pakistan and India. As Dr Anita Wagner of Harvard University, one of the organizers of the conference, put it: “In most developing countries, both men and women have equally bad access to essential medicines.”
Eight Indonesian researchers were invited to attend this prestigious meeting to present their works on various topics related to the use of medicines in the Indonesia context. The topics were Empathic Caring Consultation to Reduce Unnecessary Use of Analgesics (Prof. Johana E. P. Hadiyono/UGM), Compounding Polypharmacy Prescription and Impact of IT based Promotion of Rational Use of Medicine (dr. Purnamawati P. Sujud, SpAK /Concern & Caring Parent Foundation), Using CBIA-DM Strategy to Improve Diabetic Patients’ Adherence (Dra. Titien Siwi Hartayu, M.Kes., Apt./ Sanata Dharma University Yogyakarta), Using CBIA-Pregnancy to Improve Skills in Selecting OTC Medicines (Sri Hidayati, S.Ked/UGM), Using CEMA-Community to Improve Skill in Evaluating Medicine Advertisements (Dra. Chairun Wiedyaningsih, Apt /UGM), Antibiotic Surveillance in ICU (dr. Zunilda Djanun M.S., SpFK/FK-UI & RSCM), Generic Medicine Pricing Policies Evaluation (Yusi Anggraini, M.Kes/ Universitas Pancasila), and Self Medication with Antibiotics (Aris Widayati, M.Si., Apt/ Sanata Dharma University Yogyakarta). These presented studies were very well-received by participants of the conference.
The World Health Organization estimates that about one third of the world’s population – around 2 billion people – does not have regular access to essential medicines. Richard Laing, coordinator  for medicine policy at WHO’s Essential Medicines Programme, adds “These estimates have recently been confirmed by household surveys in countries such as Uganda. And every year, about 150 million people sink below the poverty line because of the high cost of the medicines they have to buy.”
For more information please contact:
ICIUM website: http://www.icium.org
dr. Rustamaji, M.Kes.,  Centre for Clinical Pharmacology and Drug Policy Studies, rustamaji.farklin@gmail.com
Anita Wagner, Harvard Medical School, tel: +65-9003-37

Advertisement

PRESS-RELEASE: Dua miliar penduduk negara berkembang sulit mendapatkan akses terhadap obat esensial

December 15, 2011

Para ahli bertemu untuk membahas Penggunaan Obat di Negara – Negara Berkembang dalam forum tujuh tahunan “International Conference for Improving the Use of Medicines (ICIUM)”. Delapan peneliti dari Indonesia berpartisipasi dalam forum bergengsi ini.

Biaya obat yang tinggi telah mendesak 150 juta orang ke bawah garis kemiskinan setiap tahunnya di seluruh dunia. Banyak hal menarik yang terkait dengan penggunaan obat terungkap dari konferensi ini. Di negara berkembang, biaya yang dikeluarkan untuk membeli insulin bagi penderita diabetes mungkin setara dengan setengah bulan gaji mereka. Temuan di Asia menunjukkan bahwa hampir 42% dari biaya produksi obat dihabiskan oleh industri farmasi untuk memanjakan para dokter. Di Oman penggunaan antibiotik yang berlebihan telah berhasil dikurangi setengahnya sejak tahun 1995. Di Afrika Timur, pesan SMS telah dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengingatkan pasien AIDS untuk mengambil obat mereka.

Sebuah laporan kasus dari Afrika menceritakan kisah ketika Catherine Adwoa tiba-tiba pingsan, ibunya segera berpikir ia menderita AIDS. Namun dokter sebuah rumah sakit kabupaten menyatakan bahwa anak sekolah berusia 17 tahun itu menderita diabetes. Hal ini membuat si ibu lega. Tapi tidak demikian dengan ayahnya yang langsung menyadari bahwa kehidupan keluarganya tidak akan pernah sama lagi. Mulai saat itu suntikan insulin harian untuk putrinya akan mengorbankan separuh gajinya. Untuk diketahui, di sebagian besar negara-negara Afrika obat untuk AIDS telah digratiskan, namun tidak demikian untuk obat diabetes. Bahkan rumah sakit pun jarang memiliki stok insulin, sehingga keluarga pasien harus pergi ke apotek swasta untuk mendapatkan obat diabetes untuk digunakan selama sisa hidupnya; yang berarti dalam kisah Chaterine tidak akan ada uang tersisa untuk membayar biaya sekolah.

Kisah – kisah serupa terungkap dalam konferensi internasional ketiga yang membahas penggunaan obat yang aman (International Conference for Improving the Use of Medicines / ICIUM) yang dihadiri oleh lebih dari 600 peserta dari lebih 80 neara – negara berkembang. Berbagai cerita serupa dipresentasikan dan didiskusikan di forum ini, tentang bagaimana obat untuk malaria yang dapat menyelamatkan jiwa tidak tersedia di apotek – apotek di Afrika Timur, dan bagaimana secara sengaja produsen lokal terus memproduksi dan mempromosikan obat malaria yang telah dianjurkan untuk ditarik dari pasar oleh  Badan Kesehatan Dunia karena menyebabkan resistensi, serta bagaimana 42% dari harga obat di suatu negara di Asia dialokasikan untuk menyuap para dokter. Fakta bahwa lebih banyak orang di negara berkembang meninggal karena penyakit kronis seperti hipertensi, asma dan diabetes, dibandingkan dengan penyakit menular seperti AIDS dan TBC juga terungkap. Sebenarnya biaya obat untuk satu tahun periode pengobatan penyakit kronis dikalkulasikan kurang dari $ 6 dolar Amerika, asalkan obat tersebut dibeli sebagai obat generik (off-patent) dan asalkan distributor lokal, apoteker dan dokter tidak menambahkan 10 atau 20 dolar lagi untuk berbagai macam biaya tambahan.. Sayangnya pemerintah di negara – negara tersebut belum berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan tersebut.

Berbagai keberhasilan dalam upaya meningkatkan dan memperbaiki penggunaan obat juga dilaporkan di forum ini Oman telah berhasil secara drastis mengurangi penggunaan antibiotika, yaitu 60% dari semua resep pada tahun 1995 menjadi 15% dari semua resep pada tahun 2010, sehingga mengurangi berkembangnya  resistensi yang merugikan pasien di masa mendatang. Di Tanzania, telah dilakukan pelatihan terhadap penjual obat, yang kemudian disebut ADDOs (Accredited Drug Dispensing Outlets – Outlet Obat Terakreditasi), untuk memastikan akses terhadap obat esensial yang berkualitas kepada pasien di daerah pedesaan. Di Afrika Timur, dimana prevalensi HIV/AIDS sedemikian tinggi, telah dilakukan pengembangan penggunaan SMS melalui telepon seluler untuk untuk mengingatkan penderita AIDS tentang jadual mengambil obat.

Dari perspektif gender, perempuan tidak memiliki kesulitan lebih dari pria dalam mendapatkan obat, meskipun masih diperlukan lebih banyak kajian di negara-negara seperti Yaman, Somalia, Pakistan dan India. Dr Anita Wagner dari Harvard University, salah satu penyelenggara konferensi, mengatakan: “Di kebanyakan negara berkembang, baik laki-laki dan perempuan memiliki akses sama buruk terhadap obat esensial.”

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organisation/ WHO) memperkirakan bahwa sekitar sepertiga dari penduduk dunia – sekitar 2 miliar orang – tidak memiliki akses secara reguler terhadap obat esensial. Richard Laing, koordinator program kebijakan obat esensial di WHO, menambahkan “Perkiraan baru-baru ini yang dikonfirmasi oleh survei rumah tangga di negara-negara seperti Uganda mengungkap bahwa setiap tahun, sekitar 150 juta orang tenggelam di bawah garis kemiskinan karena tingginya biaya obat yang harus mereka tanggung.”

Forum ICIUM ini diadakan setiap tujuh tahun. Konferensi sebelumnya diadakan di tahun 1997 dan 2004, keduanya di Thailand. Kali Ini ICIUM diadakan di Turki untuk memungkinkan lebih banyak delegasi dari Timur Tengah untuk berpartisipasi. Konferensi ini awalnya direncanakan berlangsung di Alexandria (Mesir) tetapi direlokasi mengingat konflik politik di wilayah tersebut. Namun demikian, lebih dari 250 peserta dari Mesir menghadiri konferensi melalui webcast (siaran lewat internet).

Delapan peneliti Indonesia diundang untuk menghadiri pertemuan bergengsi ini untuk mempresentasikan studi mereka di berbagai topik yang berkaitan dengan penggunaan obat dalam konteks Indonesia: Empathic Caring Consultation to Reduce Unnecessary Use of Analgesics (Prof. Johana E. P. Hadiyono/UGM), Compounding Polypharmacy Prescription and Impact of IT based Promotion of Rational Use of Medicine (dr. Purnamawati P. Sujud, SpAK / Yayasan Orangtua Peduli), Using CBIA-DM Strategy to Improve Diabetic Patients’ Adherence (Dra. Titien Siwi Hartayu, M.Kes., Apt./Universitas Sanata Dharma), Using CBIA-Pregnancy to Improve Skills in Selecting OTC Medicines (Sri Hidayati, S.Ked/UGM), Using CEMA-Community to Improve Skill in Evaluating Medicine Advertisements (Dra. Chairun Wiedyaningsih, Apt /UGM), Antibiotic Surveillance in ICU (dr. Zunilda Djanun M.S., SpFK/FK-UI & RSCM), Generic Medicine Pricing Policies Evaluation (Yusi Anggraini, M.Kes/ Universitas Pancasila), and Self Medication with Antibiotics (Aris Widayati, M.Si., Apt/ Universitas Sanata Dharma). Presentasi tersebut merupakan sumbangan Indonesia terhadap pengembangan metode untuk peningkatan dan perbaikan penggunaan obat secara aman.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi: ICIUM website: http://www.icium.org; Anita Wagner, Harvard Medical School, tel: +65-9003-3741; Prof Johana EP Hadiyono (INRUD Indonesia); dr. Purnamawati Sujud P., SpAK (Yayasan Orang Tua Peduli); dr. Zunilda Djanun M.S., SpFK (FK-UI & RSCM); dr. Rustamaji, M. Kes, rustamaji.farklin @ gmail.com  (PSFKKO UGM); Aris Widayati, M.Si., Apt (ariswidayati@usd.ac.id).

Berlari…dan… berlari…

January 29, 2009

Hari – hari yang mengawali tahun 2009 ini kulalui dengan banyak berlari-lari. Pertama, berlari menyelesaikan research proposal, yang ini malah harus lari kencang sekali karena sudah mendekati deadline. Kedua, berlari menghindar dari hawa panas dan sengatan matahari yang bisa menyebabkan kanker kulit, walaupun sudah pakai sunscreen, karena sekarang di Adelaide sedang overheating!!! Suhu akan berkisar 44-47 derajad celcius. Ketiga, berlari-lari pagi sebelum temperatur beranjak naik…wow yang ini menyenangkan, karena berlari sepanjang pantai untuk refreshing dan sekaligus olahraga.

Terkadang sangat terasa lelah, terutama berlari menyelesaikan proposal. Namun jika mengingat harus segera selesai  agar bulan April nanti bisa mudik, maka api semangat kembali menyala-nyala. …untuk segera pulang ke kotamu.