Lunch with Donna’s family at Glenelg East, South Australia

November 30, 2008

p30700841

Hari Minggu ini saya diundang makan siang oleh keluarga Donna. Mereka menganggap saya seperti family. Donna memasak Italian food dan Nasi Goreng. Kami having fun dengan masak bareng – bareng dan akhirnya tersaji: pasta with delicious tomato souce, nasi goreng bumbu Indonesia, Ayam bumbu Vietnamese, salad, brownies, chocholate cake, corn flake with honey and orange juice. Saya juga nyicip sedikit wine, dan lidah saya langsung nggak cocok dengan wine. Saya heran kok Donna bisa minum wine bergelas – gelas. Kalau dia lihat saya minum wedang ronde bergelas – gelas, barangkali heran juga.
Next time, saya akan masakkan mereka opor ayam untuk mengenalkan masakan Indonesia yang tidak kalah lezatnya.

Dear Donna and Annalise. Thank you very much for inviting me to have lunch with your nice family. I appreciate your effort to make me feel at home, although I am far from my beloved family. This is a beautiful day.

p30700861

p3070087

Advertisement

Secuil informasi tentang tempat – tempat menarik di South Australia

November 27, 2008

uni of Adelaide
Menjelajah tempat – tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya, akan menimbulkan kesan tersendiri. Di South Australia ini, banyak tempat menarik yang bisa kunjungi, baik yang lokasinya di dalam kota Adelaide, sekitar kota, ataupun di luar kota.

Saya mulai dari dalam kota Adelaide.
Adelaide adalah kota yang tidak terlalu besar dengan banyak bangunan tua yang menurut saya eksotis. Sebagian besar bangunan University of Adelaide sendiri adalah bangunan tua. Juga gedung – gedung di sekitarnya, seperti Art gallery, Post Office di Victoria Square dan bangunan eksotik gereja katholik Katedral St. Francis Xavier di Wakefield Street.

Menurut saya, Adelaide adalah kota dengan tata kota yang sederhana dan cantik dengan transportasi umum yang unik menarik, yang memudahkan kita untuk memutari kota untuk berbagai urusan secara efisien. Kota dipagari oleh teras di empat penjuru (North, East, South, and West Terrace) yang dapat dijangkau dengan transportasi umum gratis. Di setiap teras terdapat taman luas dengan pohon – pohon yang sudah tua.

Koleksi benda seni di Art Gallery yang letaknya persis bersebelahan dengan Uni of Adelaide, cukup mengagumkan. Saya sangat terpesona dengan sebuah lukisan yang bercerita tentang seorang suami yang membukakan pintu bagi istrinya yang saat itu punya salah berat ke suaminya, si suami mengangkat siku si istri yang sedang bersimpuh untuk memohon belas maaf dari suami dan seperti dengan hangat dan tulus menerima si istri untuk kembali ke rumah (entah kesalahan apa yang telah si istri lakukan, mungkin perselingkuhan). Lukisan itu sangat menyentuh hati.

Masih ada tempat lain lagi, seperti Zoo, Botanical Garden dan National Wine Centre, juga River Torrens dan Casino, chocholate factory, toko-toko barang unique dan resto – resto masakan khas.

Sekarang ke luar kota,
Seperti di postingan sebelumnya, saya sempat jalan – jalan ke Gorge Wildlife Park yang lokasinya di bukit yang dikelilingi sungai. Terdapat binatang khas Australia, seperti tentu saja Kanguru, Wallaby, Wombat, Dingoes. Adalagi Cleland Park juga dengan animal. Jika suka dengan pemandangan alam dan mau menikmati kebun anggur, bisa berkunjung ke Barossa Valley yang terdapat banyak winery. Petualangan seru bisa dijumpai di Flinders Ranges juga Hahndorf. Pantai – pantai yang bersih dengan pasir putihnya layak dinikmati apalagi di Spring dan Summer ini. Glenelg Beach adalah tempat yang saya kunjungi tiap weekend (untuk bekerja). Beberapa bulan lalu saya juga jalan – jalan ke Brighton beach. Masih ada Outer Harbor dan Henley Beach. Masih banyak yang belum saya sebut. Ooww…hampir lupa, juga ada tempat untuk melihat barang – barang khas Aborigin.

Secuil informasi ini bisa sebagai gambaran untuk Evi Purba di Bali yang bulan Desember nanti akan kunjungi Adelaide. Evi bisa kontak saya, siapa tahu bisa bertemu. Untuk informasi lengkapnya bisa searching ya….

Jalan – jalan ke Gorge Wildlife Park, South Australia

November 16, 2008

Minggu kemarin, jalan – jalan ke Gorge Wildlife Park. Lihatlah foto di bawah ini, bercanda sama kanguru yang lucu, imut dan menggemaskan.

p2120057
Menurutku tempat ini biasa saja, masih lebih mengagumkan tempat – tempat wisata animal di Indonesia, seperti Taman Safari Indonesia di Pasuruan dan di Cisarua. Hanya saja, kanguru dan koala nya memang cukup banyak, imut dan lucu.

Dengar – dengar, populasi kanguru sekarang mengecil karena banyak ditangkap dan dijual dagingnya. Di supermarket memang banyak daging kanguru dijual dan relatif lebih murah dibanding daging sapi or kambing. Tapi aku tidak berminat mencoba makan daging kanguru, teringat binatangnya yang imut dan lucu. Bahkan seorang teman cerita pergi ke Kangaroo Island dan tidak bertemu dengan seekorpun kanguru.

Nostalgia SMA (SMA 1 Margoyudan Solo)

November 7, 2008

Ini Jumat sore, saatnya tidak nyentuh buku or jurnal. So, punya waktu luang buat “berselancar” dipojokan State Library.

Iseng –iseng aku baca percakapan teman –teman di millist. Senang bisa nyambung lagi dengan teman – teman setelah 17 tahun tidak bertemu dan bersapa. Ada yang tetap mirip style-nya, ada yang berubah. Yang dulu “rame” kayaknya tetap “rame”. Yang dulu kalem kayaknya jadi “rame”, menyenangkan.

Wah ternyata teman –teman pada sukses semua. Berkarya dibidang masing – masing. Selamat deh! Berarti harapan para guru kita dulu terwujud. Viva SMA 1 Margoyudan Solo.

Mungkin benar kata banyak orang dan para ahli, masa SMA adalah masa mencari jatidiri, “who am I?”. Dan sekarang dengan bertambahnya usia menjadi semakin matang, rasanya semakin menjadi “pribadi yang terbuka”.

Jadi ingat syair lagu ini: (di ambil dari sini.)
Kau bercanda lucunya
Yang lain pun tertawa
Seakan saja
Cerita dan canda kita
Tiada habisnya
Ada yang saling cinta
Bermesra di sekolah
Selalu berdua
Berjalan di sela-sela
Rumput sekolah kita
Oh indahnya….
Nostalgia SMA kita
Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria
Masa paling indah
Nostalgia SMA kita
Takkan hilang begitu saja
Walau kini kita berdua
Menyusuri cinta…masing – masing.

Global Climate Change, naik taksi dan kisah sebuah payung….

November 2, 2008

Sekarang memasuki bulan Nopember. Di Adelaide musim Spring sejak September lalu. Bulan Desember nanti memasuki Summer. Adelaide cerah dan cenderung panas sejak hampir 3-4 minggu ini, walaupun sekitar 4 hari lalu hujan rintik – rintik.

Pagi ini hari Minggu, seperti 3 kali hari Minggu sebelumnya, saya jalan kaki ke gereja. Begitu keluar rumah…wah langit mendung…saya putuskan jalan lebih cepat agar segera sampai di gereja sebelum turun hujan. Memang kemarin ramalan cuaca mengatakan Adelaide berawan.

Sepanjang jalan saya berdoa agar saya tidak kehujanan karena saya kawatir jatuh sakit, dan kalau harus berteduh ada kemungkinan saya terlambat. Langkah saya percepat, saya berjalan diiringi beberapa kali kilatan petir, dan agak lega karena puncak – puncak gedung di Adelaide city sudah mulai kelihatan.

Namun, tiba – tiba tetes – tetes air mulai terasa di ujung hidung saya. Saya lihat di seberang jalan ada pompa bensin dan ada toko kecil. Segera saya berlari menuju toko tersebut dan bertanya apakah menjual payung. Saya tidak beruntung karena payung tidak dijual di situ. Saya sejenak termangu di teras toko dan berpikir “What should I do?” sedangkan hujan semakin deras saja. Jika saya menunggu saya tidak tahu sampai kapan hujan akan berhenti dan saya mungkin akan terlambat.
“Taksi!”…itu yang kemudian terlintas di benak saya ketika melihat sebuah taksi melintas. Namun, saya teringat bahwa ongkos taksi mahal (di Yogya juga mahal). Saya tanya ke penjaga toko, saya minta perkiraan dia tentang biaya taksi ke Wakefield Street. Sekitar 10 dolar katanya…wah lumayan mahal, pikir saya. Namun keputusan harus segera diambil.

Saya melambai ketika ada taksi lewat. Saya membayangkan jika saya punya payung, saya bisa meneruskan jalan kaki yang tinggal 15 menit lagi. Namun, sudahlah…menyesal itu kurang berguna. Ketika taksi berhenti di depan gereja di ujung Wakefield Street, dengan berdebar saya lihat argo…10 dolar 20 cent…(hampir tepat juga perkiraan si penjaga toko tadi). Saya berharap tidak perlu naik taksi lagi setelah ini dan ini tadi hitung –hitung untuk pengalaman naik taksi di Adelaide.

Saya kemudian memutuskan harus payung. Kenapa saya dari kemarin – kemarin “ngeyel” tidak beli payung? Karena saya pikir ini sudah Spring dan hampir Summer, masak sih hampir musim panas turun hujan.
Selesai misa digereja, saya menuju hall untuk kerja volunteer di morning tea. Ternyata ada acara jualan dari Ibu-Ibu, mungkin untuk dana natalan. Iseng – iseng saya lihat barang-barang yang digelar. Dan mata saya tertumbuk ke sebuah benda yang memang sedang memenuhi pikiran saya…ya sebuah payung. Wah beli saja disini karena diluar masih rintik-rintik,…jangan girang dulu, pikir saya, siapa tahu itu payungnya Ibu yang jualan, masak mau dibeli hi…hi. Namun tidak mengurungkan niat, segera saya tanya apakah dijual. Saya beruntung karena payung itu dijual dan harganya….Oh My God, …cuma 1 dolar!!

I want to know what love is….

October 26, 2008

I want to know what love is….(I want You to show me!)

Love is always patient and kind….

It’s never jealous.

Love is never boastful or conceited….

it’s never rude or selfish.

It does not take offence and is not resentful.

Love takes no pleasure in other people’s sins,…

but delights in the truth.

It is always ready to excuse, …

to trust…

to hope…

to endure whatever comes.

(St Paul’s first letter to The Corinthians).

Sosis Goreng dan Tempe Goreng

October 25, 2008

Dua jenis makanan yang sama – sama sering saya makan. Bedanya, sosis goreng sering saya makan sejak saya disini sedangkan tempe goreng adalah makanan ter-favorit saya. Bagi saya, serasa tidak makan jika tanpa tempe goreng. Bayangkan, sehari bisa makan tempe goreng 10 biji lho!

Lalu apa masalahnya sekarang…jelas masalah besar karena saya disini tidak bisa punya akses ke makanan favorit saya itu. Sering timbul tanda tanya: apa rasanya masih sama ya, apa bentuknya juga masih sama? apa masih murah?

Bisa dibayangkan kan bagaimana perasaan saya kalau sekarang posisi tempe goreng itu dengan sangat memaksa dan tiba – tiba digantikan oleh sosis goreng. Cukup menderita!

Ya sudahlah, ini adalah kenyataan yang harus saya terima. Saya sudah membayangkan nanti kalau pulang alangkah indahnya pertemuan kembali dengan…semua yang saya sayangi (termasuk tempe goreng)!

Public Transport di hari Sabtu dan Minggu

October 19, 2008

Hari Sabtu kemarin dan Hari Minggu ini saya jalan kaki. Ah cuma jalan kaki kan biasa…ya biasa jika hanya 10 sampai 30 menit. Tapi yang saya lakukan ini jalan kaki sampai 1 jam 10 menit! Bukan dalam rangka lomba jalan kaki.

Hari Sabtu kemarin saya bermaksud beli laptop kecil, karena laptop besar yang biasa saya gendhong dipunggung setiap hari kok makin lama makin membebani punggung, jadilah pergi ke electronic center. Ketika mau pulang menenteng dos isi laptop, sudah nunggu di bus stop 15 menit kok si Bus tidak kunjung muncul… eh ternyata setelah saya baca informasi yang terpasang di halte itu, Hari Sabtu dan Minggu tidak ada bus yang lewat halte itu, adanya di halte di main road, tadi waktu berangkat lewatnya beda rute dan hanya jalan sedikit ke tokonya. Wah celaka betul…so jalan kaki sekitar 45 menit ke halte di main road ditengah terik matahari menjelang summer ini.  It’s oke…no problem…no worries. The most important is I’ve got the smaller notebook.

Keesokan harinya, hari Minggu, saya bermaksud pergi ke gereja di kathedral dekat Victoria Square, itu di pusat kota. Jadwal misa jam 09.00 am. Lha setelah konfirmasi jadwal bus, untuk hari Minggu halte yang dekat kost cuma kelewatan bus mulai (paling awal) jam 8.55 setelah itu setiap 1 jam sekali. Tanpa ragu – ragu, langsung saya putuskan jalan kaki agar bisa ikut misa jam 09.00. Maka pagi ini saya jalan kaki dari kost ke gereja selama 1 jam 10 menit, agak makan waktu lama karena saya buat jalannya santai, saya tetap jaga agar ketika ikut misa nanti tidak kemringet and sumuk. Sepanjang perjalanan saya mengingat cerita suami saya yang katanya waktu dia kecil karena rumahnya didesa sedangkan gereja cuma ada dikota, dia sekeluarga harus bangun jam 4 pagi untuk misa jam 6.00 dan jalan kaki jauh juga. Wah aku pikir-pikir nggak di Adelaide and di Dusun Nglampu, Muntilan, ternyata sama – sama ke gereja harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan jalan kaki. Di Adelaide ini lebih JADUL, karena kejadian di Desa suami saya itu sudah berlangsung hampir 30 tahun yang lalu dan sekarng tidak lagi. So…mana yang lebih moderen?

Hal itu karena public transport di sini untuk Hari Sabtu dan Minggu hanya ada setiap 1 jam sekali dan dijalur -jalur tertentu saja, itupun mulainya siang, ya sekitar jam 09.00 an gitu. Orang sini kalau libur bermalas-malasan, bangun siang dan lebih suka dirumah.

Masalah jalan kaki jauh ke gereja itu sebenarnya masalah yang saya pilih sendiri karena ada juga jadwal misa jam 12 siang, sehingga sudah ada bus lewat. Tapi saya tidak biasa atau tidak nyaman bangun siang sehingga lebih baik pilih pagi sekalipun harus dengan perjuangan.

Jadi kalau hari Sabtu dan Minggu serta Public Holiday, kalau tidak punya mobil sendiri, mobilitas memang jadi terbatas. Rupanya Pak Sopir pun perlu holiday tidak narik terus.

Pindah Kost

October 11, 2008

Hari ini Sabtu 11 October 2008 saya pindah tempat tinggal. Karena yang sebelumnya cukup jauh dari kampus harus naik train 30 menit dan bus 20 menit, kalau ditotal dengan jalan kakinya ya makan waktu 1,5 jam. Saya merasa wasting time di perjalanan.

Saya jadi teringat dulu waktu masih kuliah S1 di UGM, selama kuliah tersebut saya pindah kost sampai 7 kali…ada yang lebih sering?? Saya pikir – pikir saya punya hobi nomaden. Tidak hanya kost, rumah pun saya juga relatif sering pindah karena sejak pertama kali punya rumah sendiri 10 tahun yang lalu saya sudah 4 kali pindah rumah. Pertama di Perum Griya Indah jalan Godean, terus pindah ke Gulon Muntilan, pindah lagi ke Sleman dan terakhir ini pindah lagi masih di Sleman di Taman Safira Asri 3F, Denggung, Sleman. Mau pindah lagi?…mungkin iya kalau anak – anak sudah remaja nanti, karena saya ingin punya rumah yang ada back yard-nya yang cukup luas.

Apa ya yang saya nikmati dari pindah – pindah itu…suasana baru pasti, lingkungan baru, menata barang kembali, ya menyenangkan.

Kembali ke kost saya yang di Adelaide ini, pertama kali saya tinggal dengan keluarga Case, native Australia, saya sudah sedikit banyak tahu culture Australia dan beberapa bahasa “slank” khas Australia. Sekarang saya tinggal dengan keluarga Habib-Bilkish imigrant dari Bangladesh, saya akan mulai tahu bagaimana culture Bangladesh, makanannya kayak apa, kesehariannya seperti apa, etc.

Sepertinya Bulan Januari 2009 nanti saya akan pindah lagi jika anak saya jadi ikut sekolah disini. Ruang kerja saya di kantor saja sudah pindah 5 kali sejak bekerja 8 tahun yang lalu. Jadi pindahan bagi saya sudah hal yang sangat biasa dan hobi kali ya…

Library Untuk Mengatasi Kangen

October 6, 2008

Berada jauh dari anak – anak dan suami serta keluarga dan sahabat, menjadi hal yang berat pada awal – awal saya di Adelaide, Australia. Namun sangat saya sadari ini adalah konsekuensi dari sebuah pilihan yang telah saya tetapkan. Syukurlah saya menemukan suatu tempat nyaman yang bisa membuat saya krasan untuk fokus ke studi yaitu: library, baik library uni ataupun state library dua – duanya tempat paling nyaman untuk saya sembunyi dan konsentrasi.

Hal menarik adalah di State Library Adelaide South Australia. Library uni juga luar biasa, namun memang begitulah seharusnya library sebuah universitas. Yang menarik perhatian saya justru State Library, lagi – lagi harus saya bandingkan dengan my Country Indonesia, semata – mata untuk kebaikan di masa depan. State Library di Adelaide memberikan pelayanan yang sangat informatif dan tentu saja ramah, fasilitas free untuk conversation and tutorial bahasa Inggris bagi para pendatang yang tidak berbahasa inggris di negaranya…luar biasa kan?

Koleksi buku umum, populer, novel, science, etc yang komplit dan dapat dipinjam dengan mudah. Jadi jika weekend tiba, saya pasti menyusuri rak koleksi novel dan filsafat yang saya suka. Dan hebatnya, pengunjung selalu melimpah setiap hari, namun keheningan ruang baca tetap terjaga. Satu lagi, semua pengunjung yang punya laptop bisa numpang browsing dengan hotspot di State Library.

Library jadi tempat nyaman bagi saya untuk menghindar dari rasa kangen dengan keluarga di Yogyakarta.