Sekilas tentang Penggunaan Antibiotika

Antibiotika adalah jenis obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Ketika kuman atau mikroorganisme menyerang tubuh kita, maka akan menimbulkan penyakit yang disebut dengan “penyakit infeksi”. Penyakit infeksi jenisnya bermacam-macam, biasanya dinamai atau disebut berdasarkan bagian tubuh yang terkena infeksi. Misalnya: infeksi saluran napas, infeksi saluran pencernaan, infeksi saluran kencing, infeksi mata, dll.

Penyakit infeksi juga dibedakan berdasarkan jenis kuman atau mikroorganisme yang menyerang (penyebab), contohnya adalah: infeksi jamur (disebabkan oleh jamur), infeksi virus (disebabkan oleh virus), infeksi bakteri (disebabkan oleh bakteri), dll.

Gejala dan tanda penyakit infeksi bervariasi tergantung jenis infeksinya. Suhu tubuh yang meningkat (panas/demam) tidak selalu berarti tubuh mengalami infeksi. Pemeriksaan berdasarkan tanda klinis lainnya dan hasil pemeriksaan laboratorium akan mendukung untuk memastikan penyakit infeksi tersebut. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memeriksakan diri ke Puskesmas, Rumah Sakit atau praktek dokter untuk memastikannya.

Sebagian besar gejala yang umum terjadi di saluran pernapasan terutama saluran pernapasan bagian atas seperti pilek, batuk , sakit menelan (sering kita sebut flu) disebabkan oleh infeksi virus dan akan membaik dengan sendirinya dalam waktu 3 – 5 hari dengan istirahat cukup dan asupan makanan bergizi. Sebagian besar penyakit infeksi saluran napas atas (70%-80%) tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika.

Pengobatan penyakit infeksi tergantung dari penyebabnya. Jika disebabkan oleh jamur, maka diobati dengan antijamur. Jika oleh virus maka diobati dengan antivirus, jika karena bakteri maka diobati dengan antibakteri atau sering disebut antibiotika.

Di Indonesia, antibiotika harus dibeli dengan resep dari dokter. Antibiotika hanya dijual secara resmi di apotek. Penjualannya harus berdasarkan resep dari dokter, kecuali antibiotika untuk penggunaan luar tubuh seperti salep kulit dan tetes mata yang tercantum dalam daftar Obat Wajib Apotek atau yang termasuk obat bebas (bertanda lingkaran hijau) dan bebas terbatas (bertanda lingkaran biru). Contoh – contoh antibiotika adalah amoksisilin, ampisilin, siprofloksasin, kloramfenikol, sefalosporin, tetrasiklin, dll.  Nama – nama tersebut adalah nama generik dari antibiotika. Satu jenis antibiotika, misalnya amoksisilin, dapat diproduksi oleh puluhan pabrik obat dan dipasarkan dengan bermacam-macam nama dagang (brand name). Jika ingin mengetahui jenis antibiotika yang terkandung dalam suatu merek obat, dapat dilihat pada bagian “Komposisi” yang tercantum dalam kemasan obat bermerek tersebut.

Penggunaan antibiotika secara sembarangan, misalnya tidak tepat indikasi atau tidak tepat aturan pakai akan memperbesar kemungkinan kuman kebal terhadap antibiotika tersebut (Resisten) atau dengan kata lain antibiotika tidak mempan lagi untuk membasmi kuman. Sehingga infeksi yang disebabkan oleh kuman tersebut akan sulit diatasi. Misalnya, menggunakan amoksisilin untuk gejala pening kepala atau penderita infeksi saluran cerna yang mendapat resep amoksisilin sebanyak 12 kapsul,  hanya diminum 2 kapsul saja, karena merasa sakitnya sudah sembuh.

Problem yang ditimbulkan akibat resistensi kuman cukup kompleks. Sebagai contoh, ketika kuman A telah resisten /kebal terhadap antibiotika B, maka seorang penderita yang terinfeksi kuman A tidak lagi bisa diobati dengan antibiotika B karena hasilnya akan tidak efektif. Sehingga harus diobati dengan antibiotika lain yang masih sensitif untuk kuman A yang biasanya adalah jenis antibiotika yang lebih baru dan harganya lebih mahal.

Selain masalah resistensi, penggunaan antibiotika secara tidak tepat atau salah memilih antibiotika yang sesuai tentu beresiko merugikan kesehatan pasien. Sebagai contoh, antibiotika jenis Siprofloksasin yang harus hati-hati dan dibawah pengawasan tenaga medis jika digunakan untuk orang yang mempunyai penyakit ginjal atau usia lanjut. Resiko lain misalnya munculnya efek samping berupa reaksi alergi, mual, muntah sampai kerusakan organ tubuh (hati, ginjal, dll).

Bermacam-macam jenis antibiotika mempunyai kemampuan yang berbeda – beda dalam membasmi bakteri, tergantung pula pada jenis bakteri yang akan dibasmi. Contoh yang cukup jelas misalnya, antibiotika amoksisilin bukan merupakan antibiotika pilihan untuk bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menimbulkan penyakit TBC. Beberapa antibiotika yang cocok untuk TBC adalah etambutol, isoniasida, rifampisin, pirazinamida dan streptomisin.
Penggunaan atau membeli antibiotika tanpa resep dokter atau tanpa periksa terlebih dahulu akan berisiko. Karena bisa saja salah dalam mengenali penyakit/keluhan yang diderita. Misalnya, sebenarnya bukan penyakit infeksi bakteri sehingga antibiotika tidak diperlukan. Atau mungkin sakitnya benar infeksi bakteri namun salah dalam memilih jenis antibiotika yang sesuai. Perilaku ini akan berpotensi merugikan bagi kesehatan penderita sekaligus memicu meningkatnya resistensi kuman terhadap antibiotika sehingga antibiotika tersebut tidak dapat lagi bekerja dengan baik untuk membasmi penyakit infeksi.

Oleh karena itu, adalah tindakan yang bijaksana untuk menghindari menggunakan/membeli antibiotika tanpa terlebih dahulu berkonsultasi ke Puskesmas/RS/dokter.

Jangan segan untuk bertanya lebih detail kepada dokter atau petugas kesehatan yang merawat anda mengenai penyakit dan pengobatannya. Manfaatkanlah pula pelayanan informasi obat ketika anda menebus resep di apotek dengan berkonsultasi dengan apoteker mengenai obat anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: